Alamat DPP Perdana Indonesia :
JJ STABLE, Modinan, Banyuraden, Gamping, Sleman, D.I. Yogyakarta 55293
HP : 0857 3637 4707
Alamat DPP Perdana Indonesia :
JJ STABLE, Modinan, Banyuraden, Gamping, Sleman, D.I. Yogyakarta 55293
HP : 0857 3637 4707

Indonesia kembali menunjukkan tajinya di kancah panahan tradisional dunia. Pada ajang bergengsi 14th Fetih Kupası 2026 yang digelar di Istanbul, Turki, para atlet Merah Putih sukses mencatatkan prestasi membanggakan dan mampu bersaing dengan pemanah-pemanah terbaik dari berbagai penjuru dunia.
Prestasi gemilang tersebut menjadi bukti bahwa panahan tradisional Indonesia terus berkembang dan semakin diperhitungkan dalam kompetisi internasional.
Tak kalah membanggakan, nama Wagianto, pemanah asal Jawa Timur yang berasal dari Komunitas Perdana Indonesia, komunitas panahan muslim tradisional terbesar di Indonesia, turut menjadi pusat perhatian. Pada kategori Menzil Limited 50 lbs Putra, Wagianto berhasil mempersembahkan medali perak dunia setelah mencatatkan jarak tembakan sejauh 423,40 meter, sekaligus mengamankan posisi runner-up di ajang tersebut.
Prestasi ini terasa semakin spesial karena Fetih Kupası 2026 merupakan pengalaman pertamanya bertanding di Turki.
“Alhamdulillah, saya sangat senang dan bersyukur. Ini pertama kalinya saya mengikuti Fetih Kupası dan langsung bisa meraih hasil yang membanggakan seperti ini,” ungkap Wagianto.
Menurutnya, nomor Menzil memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan kategori panahan tradisional yang umum dipertandingkan di Indonesia. Selain membutuhkan teknik khusus, nomor ini juga menuntut pengalaman bertanding yang lebih banyak.
Karena itu, Wagianto berharap ke depan semakin banyak kompetisi panahan tradisional di Indonesia yang memasukkan kategori Menzil sebagai salah satu nomor resmi pertandingan.
“Kalau ada lomba Ground, sebaiknya sekaligus ada kategori Menzil. Atlet-atlet Indonesia perlu lebih banyak kesempatan untuk berlatih dan bertanding di nomor ini. Pengalaman di Turki membuktikan bahwa Menzil memiliki tantangan tersendiri dan membutuhkan jam terbang yang tinggi,” katanya.
Ia optimistis, jika kompetisi Menzil semakin sering digelar di Tanah Air, maka peluang Indonesia untuk meraih prestasi lebih besar di level internasional juga akan semakin terbuka.
Prestasi Indonesia di kategori Menzil semakin lengkap berkat penampilan Muhammad Faris Muhsin Hasbiyalloh asal Surabaya yang berhasil menempati peringkat keenam dunia dengan torehan jarak tembakan 388,75 meter. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kedalaman atlet yang mampu bersaing di nomor bergengsi tersebut.
Official Tim Indonesia, Saharudin atau yang akrab disapa Mr. Saha, mengaku bangga atas perjuangan seluruh atlet yang telah mengharumkan nama bangsa di Turki.
“Alhamdulillah, para atlet menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Mereka datang membawa nama Indonesia dan mampu bersaing dengan atlet-atlet terbaik dunia. Ini menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Ketua Pordasi Sulawesi Tenggara itu menilai pencapaian tersebut merupakan hasil dari latihan yang konsisten, dedikasi tinggi para atlet, serta dukungan berbagai komunitas panahan tradisional di seluruh Indonesia.
Tak hanya di kategori Menzil, Indonesia juga tampil impresif pada sejumlah nomor lainnya.
Pada kategori FK 50 Meter Putra, Indonesia berhasil meloloskan enam atlet ke babak 32 besar dunia, yakni Yudi Prasetyo, Juliansyah, Fahmi Karmidi, Kunto Ambio Wisanggeni, Dedi Suryadi, dan Achmad Syahrul Uman.
Juliansyah bahkan mencatatkan hasil luar biasa dengan menempati peringkat keempat dunia pada babak kualifikasi, sementara Yudi berada di posisi kedua dunia.
Dominasi Indonesia juga terlihat pada kategori Zhamby 30 Meter Putra, di mana tiga atlet berhasil menembus babak 16 besar dunia, yaitu Juliansyah, Yudi Prasetyo, dan Muhammad Ata Arsyad.
Nama Muhammad Ata Arsyad menjadi perhatian tersendiri. Remaja asal Surabaya yang baru berusia 15 tahun itu sukses menembus jajaran 16 besar dunia dan mampu bersaing dengan para atlet senior dari berbagai negara.
Di sektor putri, Vera Nurbania asal Bogor menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berhasil lolos ke babak 32 besar kategori FK 50 Meter Putri. Atlet yang tergabung dalam Muslim Archery Bogor dan D’raas Organizer Indonesia tersebut finis di peringkat ke-23 dunia dari total 177 peserta.
Sementara itu, dua atlet putri asal Sulawesi Tenggara, Meriyanti dan Hasnawati, juga menunjukkan semangat juang tinggi meskipun belum berhasil melaju ke fase eliminasi.
Kebanggaan Sulawesi Tenggara semakin lengkap dengan penampilan Al Junar asal Konawe yang tampil kompetitif di kategori FK 50 Meter Putra. Ia finis di peringkat ke-33 dunia, hanya terpaut satu posisi dari zona lolos 32 besar.
Bagi Mr. Saha, rangkaian hasil tersebut menjadi bukti bahwa panahan tradisional Indonesia sedang berada di jalur perkembangan yang sangat positif.
“Alhamdulillah, hampir di setiap kategori ada atlet Indonesia yang mampu masuk papan atas dunia. Ini menunjukkan bahwa kualitas pemanah tradisional Indonesia semakin meningkat dan semakin diperhitungkan di level internasional,” katanya.
Fetih Kupası sendiri merupakan salah satu kejuaraan panahan tradisional paling prestisius di dunia yang rutin diselenggarakan setiap tahun di Turki untuk memperingati Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih. Kompetisi ini selalu diikuti ratusan pemanah dari berbagai negara dan menjadi panggung bergengsi bagi para atlet terbaik dunia.
Dengan sederet prestasi yang diraih pada edisi 2026, Indonesia kembali membuktikan diri sebagai salah satu kekuatan penting dalam dunia panahan tradisional internasional. Di tengah ketatnya persaingan para pemanah dari Asia, Eropa, hingga Afrika, Merah Putih berhasil berkibar tinggi dan membawa pulang kebanggaan dari Istanbul untuk seluruh rakyat Indonesia.